Beranda Begini Kondisi Jalan di Garut Selatan di Zaman Hindia Belanda

Begini Kondisi Jalan di Garut Selatan di Zaman Hindia Belanda

3 bulan yang lalu - waktu baca 2 menit

Tahukah para warginet bahwa wilayah Garut Selatan seperti Pameungpeuk, Cisompet, Bungbulang sudah terkenal sejak zaman Hindia Belanda? Pameungpeuk sudah menjadi tujuan wisata para turis asing, terutama turis Eropa. Salah satu pantai yang banyak dikunjungi oleh turis Eropa adalah Tjilaut Eureun.

Berdasarkan catatan perjalanan Turis Belanda dengan insial R. Onnevreaiganeer di majalah Indië; geïllustreerd weekblad voor Nederland en koloniën yang diterbitkan pada 1926 mendeskripsikan jalan dari Garut menuju Pameungpeuk. Ia mendeskripsikan pemandangan selama perjalanan menuju Pameungpeuk merupakan pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan karena pemandangannya yang begitu eksotis.

Untuk bisa pergi ke Tjilaut Eurun via Garut maka para turis ini akan melewati Tjikadjang (Cikajang). Biasanya mereka akan menginap selama satu malam di villa mewah, Villa Paulina di Tjisoeropan (Cisurupan) untuk menikmati pemandangan Gunung Papandayan. Setelah menginap semalam mereka melanjutkan perjalanan menuju Tjilaut Eureun dan pemandangan luar biasa sudah mulai terlihat. Setelah melewati Tjikadjang (Cikajang) maka para turis tidak akan melihat bangunan (rumah) lagi.

Karena setelahnya para turis akan melewati jalan ditengah-tengah hutan dan pegunungan dengan medan jalan yang cukup terjal, namun dengan keindahan pemandangan yang luar biasa indah. Untuk sampai di Cilaut Ereun para turis ini melalui jalan yang berkelok-kelok dengan tikungan yang tajam. Meskipun jalannya terbilang ekstrem tapi para turis ini tidak mengalami mabuk perjalanan karena mereka sibuk menikmati pemandangan alam yang mereka lewati.

Mereka kebun teh yang menghampar hijau dan luas, bahkan salah satu turis Eropa menyebutkan bahwa mereka bisa mencium aroma segar khas teh. Kemudian mereka menemukan air terjun kecil dipinggir jalan dan berhenti di sana. Air terjun ini muncul dari batuan yang menumpuk sehingga menciptakan air terjun kecil dengan air sedingin es. Para turis berbondong-bodong untuk merasakan kesegaran air tersebut dan tak lupa membasuh mukanya untuk menyegarkan wajahnya.

Setelah beristirahat sebentar mereka melanjutkan perjalanan dan sampai di Lendra Estale, perkebunan karet besar di mana para turis melihat para buruh tani yang merupakan wanita sunda sedang menyadap karet. Setelah melewati kebun karet mereka sudah melewati Tjisompet (Cisompet). Mereka melihat air terjun tujuh tingkat dari dalam mobil mereka.

Para turis Eropa ini terkagum-kagum dengan pemandangan air terjun tersebut, bahkan mereka semakin tidak sabar ketika mereka mulai melihat sawah yang berundak-undak, kemudian melewati kebun kelapa yang luas dan sudah melihat perkampungan. Itu tandanya mereka semakin dekat dengan area laut. Setelah mereka melewati perkampungan tersebut para turis ini sampai di Pasanggrahan dan harus menempuh jarak sepanjang dua kilo meter lagi untuk sampai di Tjilaut Eureun.

 

 

Sumber : Indië; geïllustreerd weekblad voor Nederland en koloniën,
jrg 10, 1926, no. 17, 10-11-1926

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.