Beranda Benarkah Gen Z Malas di Dunia Kerja, Fakta atau Stereotipe?
ADVERTISEMENT

Benarkah Gen Z Malas di Dunia Kerja, Fakta atau Stereotipe?

14 jam yang lalu - waktu baca 3 menit
Benarkah Gen Z Malas di Dunia Kerja, Fakta atau Stereotipe?, Source: Freepik

Gen Z sering dianggap tidak disiplin di kantor, namun riset menunjukkan bahwa mereka membutuhkan arahan jelas, umpan balik rutin, hingga budaya kerja transparan.

Saat ini Gen Z mulai mendominasi dunia kerja di Indonesia, namun sering dicap kurang inisiatif, tidak loyal, serta terlalu menuntut oleh manajemen senior. Padahal, generasi yang lahir antara 1997 hingga 2012 ini tumbuh dalam sistem digital yang membentuk pola pikir berbeda soal struktur, komunikasi, hingga arah kerja.

Baca juga: Indonesia Nomor 1 di ASEAN dan Kedua Dunia dalam Kecanduan HP

Gen Z dan Makna Kerja

Bagi Gen Z, pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan ruang bertumbuh yang sejalan dengan nilai pribadi dan keseimbangan hidup. Studi Tirto bersama Jakpat pada September 2022 menunjukkan bahwa banyak responden Gen Z siap pindah jika lingkungan kerjanya tidak mendukung perkembangan mereka.

Gen Z juga memprioritaskan kesehatan mental dan work-life balance dibandingkan ambisi jabatan semata dalam dunia profesional. Laporan TalentLMS 2022 mencatat 42 persen Gen Z rela berhenti kerja akibat burnout, menjadikannya alasan terbesar kedua setelah persoalan gaji.

Selain itu, Gen Z memberikan perhatian besar pada isu keberagaman, kesetaraan, hingga budaya kerja terbuka. Studi IDN Research Institute dan Populix pada tahun 2024 menyebut bahwa 77 persen Gen Z menganggap nilai tersebut penting dan enggan bertahan di lingkungan diskriminatif.

Manajer vs Gen Z

Di sisi lain, sejumlah manajer mengaku kesulitan memahami karakter Gen Z yang dianggap kurang disiplin serta terlalu sensitif terhadap kritik. Survei resumebuilder.com terhadap 1.344 manajer mencatat 49 persen responden merasa tantangan utama adalah komunikasi dan profesionalisme generasi ini.

Namun dari sudut pandang Gen Z, masalahnya terletak pada sistem kerja yang minim arahan dan onboarding tidak terstruktur. Banyak dari mereka dituntut produktif sejak awal tanpa penjelasan prioritas yang jelas, sehingga energi mental terkuras untuk menebak ekspektasi atasan.

Perbedaan makna inisiatif menjadi akar kesenjangan antara manajer senior dan Gen Z di kantor modern. Bagi generasi lama, inisiatif berarti bertahan dalam ketidakpastian, sedangkan bagi Gen Z inisiatif tumbuh dari sistem transparan dan target yang terukur.

Sistem dan Dialog Kerja

Gen Z merupakan generasi pertama yang sepenuhnya dibesarkan oleh internet dengan sistem serba cepat dan terukur. Mereka terbiasa dengan tujuan yang jelas, umpan balik instan, serta panduan konkret dalam setiap aktivitas digital sejak usia dini.

Ketika masuk ke dunia kerja yang ambigu dan minim komunikasi, Gen Z mengalami beban kognitif tambahan. Mengutip dari jurnal Springer Nature, kondisi ini membuat energi mental habis untuk memahami ekspektasi, bukan untuk berpikir kreatif dan menyelesaikan masalah.

Maka dari itu, perusahaan perlu membangun komunikasi dua arah, onboarding terstruktur, serta budaya kerja empatik dan fleksibel. Dengan sistem jelas dan dialog rutin, Gen Z justru mampu menunjukkan ambisi, loyalitas, dan kontribusi maksimal bagi organisasi.

Baca juga: 5 Pekerjaan yang Menjanjikan dan Cocok untuk Gen Z

Nah Warginet, memahami Gen Z bukan soal memanjakan generasi muda, melainkan membangun sistem kerja yang lebih transparan dan manusiawi bagi semua pihak. Jika komunikasi dibuka dan arah kerja diperjelas, Gen Z dapat menjadi motor perubahan positif dalam dunia profesional.

ADVERTISEMENT

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.