Bupati Garut yang Menolak Kemerdekaan Indonesia
Di tengah perjuangan masyarakat Pribumi untuk memberantas pasukan penjajah di Indonesia, ternyata ada Bupati Garut pada masa itu yang memilih pro kepada penjajah dan menolak kemerdekaan Indonesia. Namanya adalah Raden Adipati Aria Moehammad Moesa Soeria Kartalegawa.
Kartalegawa diberi nama Soeria-NICA-Legawa oleh masyarakat Garut karena dalam kiprah politiknya, ia nurut kepada kebijakan Belanda dan sering berlawanan dengan pemerintah Indonesia. Ia mendirikan Partai Rakyat Pasundan (PRP) untuk membuka jalan politiknya memisahkan diri dari pemerintahan Soekarno. Kertalegawa bahkan tak ragu mengaku sebagai opsir KNIL dan melakukan perlawanan secara terbuka kepada pihak yang mendukung Indonesia. Pada 11 Mei 1947, PRP mengadakan gerakan-gerakan teror dengan menculik sejumlah pejabat RI di Bogor.
Mantan Bupati Garut ini getol menyuarakan kebenciannya terhadap aktivias politik Republik Indonesia, bahkan ketidaksukaannya juga diarahkan ke Presiden Soekarno. Ia bahkan memilih memisahkan diri dan membentuk Negara Pasundan Federal. 4 Mei 1947, di alun-alun Bandung, Kartalegawa memproklamasikan berdirinya Negara Pasundan. Ia didukung beberapa birokrat dan petinggi militer Belanda, salah satunya eks perwira KNIL, Kolonel
Santoso, penasehat politik van Mook, Gubenrur Jendral Hindia Belanda, juga kelompok Intel Belanda NAVIS. Ia juga didukung oleh Residen Belanda di Bandung, M. Klaasseen yang menulis sebuah laporan pada 27 Desember 1946, bahwa PRP dipandang sebagai suatu gerakan rakyat yang spontan dan Residen yang menyambut gembira, karena Tatar Pasundan timbul gerakan antirepublik.
Kertalegawa memberontak Soekarno dan diangap menomorduakan orang Sunda. Menurutnya, perkembangan politik pemerintahan Jawa Barat tidak pernah melibatkan orang Sunda secara langsung. Ia melihat bahwa gubernur pertama, kedua, dan ketiga Jawa Barat bukan berasal dari Sunda, baru yang keempat berasal dari Sunda. Ia juga mempertanyakan alasan Soekarno lebih mengakui Negara Indonesia Timur (NIT) daripada Negara Pasundan di Jawa Barat, sehingga menganggap Soekarno tidak adil.
Pembentukan Negara Pasundan dianggap terburu-buru hingga tidak berjalan dengan maksimal. Usai beridrinya negara tersebut, keluarga Kertalegawa menolak pendirian Negara Pasundan. Ayahnya bahkan menyuruh anaknya itu untuk bersumpah di corong radio agar tidak menikah sebelum sang ayah mati, ibunya juga turut melampiaskan kekesalannya dan menyatakan bahwa keluarga mereka tidak menyetujui pendirian negara tersebut.
Sumber materi : Merdeka.com
Sumber foto : Merdeka.com
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.