Kenali, Ini Bahaya Gas Air Mata yang Perlu Diketahui: Begini Langkah Penting Pertolongan Pertamanya!
Gas air mata adalah alat non-mematikan, namun memilikin risiko kesehatan yang serius. Pertolongan pertama yang tepat dan cepat bisa mengurangi dampak negatifnya!
Untuk meredakan aksi massabyang semakin ricuh, para aparat biasanya menggunakan gas air mata guna mengontrol para pendemo. Meskipun dikategorikan sebagai senjata non-mematikan, paparan gas air mata dapat menimbulkan berbagai efek samping kesehatan serius, mulai dari iritasi mata hingga gangguan pernapasan.
Penting bagi publik untuk mengenali bahaya gas air mata dan memahami langkah pertolongan pertama yang harus dilakukan saat terpapar, agar dapat meminimalkan risiko terhadap kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang.
Gas air mata bukanlah gas murni, melainkan berupa aerosol zat kimia atau partikel kimia yang disemprotkan dalam bentuk kabut.
Beberapa agen kimia utama dalam gas air mata adalah CS (2-chlorobenzalmalononitrile), serta variannya, dan ada pula CN (chloroacetophenone) dan jenis lainnya.
Gas ini dirancang mengiritasi mata, kulit, dan saluran pernapasan, memaksa orang menjauh dari wilayah paparan.
Baca Juga: Ini Daftar Makanan Penyebab Jerawat yang Perlu Dihindari
Bahaya Gas Air Mata bagi Kesehatan
Sebagaimana yang dilansir dari DetikHealth, berikut merupakan efek dari bahaya gas air mata bagi kesehatan tubuh, antara lain:
1. Efek pada Mata
Paparan langsung dapat menyebabkan mata perih, terbakar, merah, gatal, berair, bahkan penglihatan kabur atau kebutaan sementara.
Dalam paparan yang parah atau berkepanjangan, kerusakan kornea, pendarahan, atau iritasi serius dapat terjadi.
2. Efek pada Sistem Pernapasan
Gas air mata dapat menyebabkan batuk, sesak napas, sensasi terbakar di tenggorokan atau dada, hingga dalam kasus parah memicu distres pernapasan. Hal ini bisa sangat berbahaya bagi individu dengan riwayat asma atau PPOK, bahkan berpotensi mengakibatkan gagal napas.
3. Efek pada Kulit dan Organ Lain
Bila terkena kulit, dapat timbul kemerahan, gatal, iritasi, bahkan luka bakar dan melepuh. Pada kasus berat, irritasi berkepanjangan bisa terjadi.
Selain itu, paparan juga dapat memicu peningkatan denyut jantung atau tekanan darah, serta berisiko bagi orang dengan penyakit jantung.
4. Risiko Jangka Panjang dan Kompilasi
Sebagian efek bersifat jangka pendek, namun apabila paparan cukup tinggi atau lama, ada potensi komplikasi jangka panjang, termasuk risiko kerusakan organ atau iritasi kronis.
Baca Juga: 5 Langkah Praktis Mengatasi Pikiran Negatif yang Sangat Merugikan
Langkah Penting Pertolongan Pertama
1. Segera Jauhkan Diri dari Sumber Paparan
Pindah ke udara segar, jika memungkinkan menjauhi arah angin yang menuju lokasi paparan. Jika berada dalam area yang terpapar, bernapas perlahan, dan usahakan tetap tenang agar tidak memperparah penyerapan gas.
2. Lepas Pakaian yang Terkontaminasi
Lepas pakaian yang mungkin menempel partikel gas. Hindari menyentuh area wajah. Simpan pakaian dalam kantong tertutup jika perlu.
3. Basuh Mata dengan Air Bersih Mengalir
Bilaslah matia dengan air yang mengalir selama 10-15 menit tanpa harus menggosoknya. Jika menggunakan lensa kontak, lepaskan segera. Alternatif lainnya adalah menggunakan larutan saline (NaCl 0,9%) jika tersedia.
4. Cuci Kulit yang Terpapar
Bilas area kulit dengan air mengalir dan sabun lembut, hindari menggosok terlalu keras. Gunakan kompres dingin atau produk peredam iritasi jika tersedia, dengan pengawasan medis bila iritasi parah.
5. Perhatikan Gejala dan Segera ke Fasilitas Kesehatan
Jika gejala tidak mereda setelah 15–30 menit, sesak napas parah, penglihatan memburuk, pembengkakan atau iritasi berkepanjangan, sebaiknya segera dapatkan perawatan medis. Khusus bagi anak-anak atau penderita penyakit pernapasan/kardiovaskular, paparan gas air mata dapat berisiko lebih tinggi, sehingga penanganan cepat sangat penting.
Jika berada di area berisiko paparan, pertimbangkan menggunakan kacamata pelindung, masker, atau syal untuk menutupi hidung dan mulut, guna meminimalkan inhalasi gas.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.