Kilas Balik Garut : Banjir Bandang Garut September 2016


Hujan deras yang mengguyur Garut selama beberapa hari ini tentu saja meningkatkan jumlah debit air. Jumlah debit air yang meningkat ini maka resiko banjir-pun ikut meningkat. Sudah dua hari Garut dilanda hujan deras dan hujan deras ini menyebabkan genangan air yang cukup dalam di beberapa daerah di Garut.

Saat ini Garut selalu tergenang ketika datangnya hujan, hal ini disebabkan kurangnya resapan air di wilayah Garut. Namun, dari semua banjir yang pernah terjadi di Garut terdapat peristiwa banjir yang meninggalkan luka besar bagi masyarakat Garut, peristiwa tersebut adalah peristiwa banjir bandang yang terjadi pada bulan September 2016.

Banjir bandang ini menyebabkan banyak korban, 33 orang tewas, 20 orang hilang terseret banjir , 2000 rumah mengalami kerusakan dan 6300 masyarakat Garut mengungsi. Terdapat 7 kecamatan yang terdampak banjir bandang ini diantaranya Kecamatan Bayongbong, Garut Kota, Banyuresmi, Tarogong Kaler, Tarogong Kidul, Karangpawitan dan Samarang.

Banjir bandang yang terjadi pada tahun 2016 disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi sehingga debit air Sungai Cimanuk pun bertambah dan sungai tersebut tidak bisa menampung banyaknya air yang ada. Hujan turun selama 4 jam tanpa henti, namun hujan ini berbeda dengan hujan biasanya karena curah hujan pada saat itu 2.5 lipat lebih besar daripada curah hujan normal.

Meningkatnya debit air ini tidak bisa dibendung oleh Bendungan Copong, sehingga Bendungan Copong-pun meluap dan hanya mampu menampung 750 meter kubik air per-detik sementera air hujan pada saat itu berada di angkat 1.100 meter pe-detik. Selain debit air yang besar, daerah tangkapan air hulu Cimanuk sudah beralih fungsi menjadi lahan perkebunan yang ditanami berbagai varietas sehingga mempengaruhi aluran sungai . Perubahan iklim di Garut dan bertambahnya populasi Garut juga turut andil dalam penyebab banjir bandang.

Banjir bandang yang terjadi pada tahun 2016 ini menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Garut. Perubahan iklim memiliki peran besar dalam banjir bandang ini, karena berubahnya iklim maka hujan besar dan ketidakpastian cuaca ini akan lebih sering kita temui sehingga resiko banjir bandang-pun semakin tinggi. Oleh karena itu, kita harus menjaga alam dan meningkatkan pengetahuan mitigasi bencana serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi segala macam bencana.

 

 

 

 

Sumber : Iwan G. Tejakusuma, Bencana Banjir Bandang di Garut 20 September 2016, Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana (2016)


0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka