Profil Chairil Anwar, Sosok di Balik Lahirnya Hari Puisi Indonesia
Chairil Anwar adalah sosok penting dalam sastra Indonesia yang dikenal sebagai pelopor puisi modern dan menjadi inspirasi di balik peringatan Hari Puisi Indonesia.
Chairil Anwar dikenal sebagai penyair besar yang membawa perubahan dalam dunia sastra Indonesia modern. Namanya sering dikaitkan dengan Hari Puisi Indonesia setiap 26 Juli, sementara tanggal 28 April yang merupakan hari wafatnya juga dijadikan sebagai Hari Puisi Nasional.
Baca juga: 28 April Jadi Hari Puisi Nasional, Ini Makna dan Kisah Pencetusnya di Indonesia
Profil Chairil Anwar
Berdasarkan Ensiklopedia Kemdikbud, Chairil Anwar lahir dari keluarga yang cukup dikenal pada masanya, dengan ayah bernama Teoloes bin Haji Manan yang pernah bekerja pada masa Belanda dan menjadi Bupati Rengat tahun 1948. Ibunya bernama Saleha yang akrab dipanggil Mak Leha dalam kehidupan sehari-hari.
Dari latar belakang tersebut, Chairil Anwar tumbuh menjadi sosok yang kuat dan memiliki pandangan berbeda dalam berkarya. Ia kemudian dikenal sebagai pelopor Angkatan 45 yang membawa gaya baru dalam puisi Indonesia.
Pendidikan Chairil Anwar
Pendidikan Chairil Anwar dimulai di Neutrale Hollands Inlandsche School (HIS), Medan pada masa kolonial Belanda dan dilanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang setara dengan jenjang SMP. Namun, ia tidak menyelesaikan pendidikan formalnya karena memilih pindah ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah.
Di Jakarta, Chairil Anwar juga tidak menamatkan pendidikan dan akhirnya memilih belajar secara mandiri dengan tekun. Ia mempelajari bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman agar dapat memahami karya sastra dunia secara langsung.
Karya Chairil Anwar
Chairil Anwar meninggal dunia pada 28 April 1949 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Karet, Jakarta Selatan. Tanggal kelahirannya pada 26 Juli kemudian dijadikan dasar peringatan Hari Puisi Indonesia yang selalu dikaitkan dengan sosok Chairil Anwar.
Beberapa karya Chairil Anwar yang cukup dikenal antara lain:
-
Sajak "Nisan" (1942)
-
Sajak "Mirat Muda" (1949)
-
Sajak "Chairil Muda" (1949)
-
Sajak "Buat Nyonya N" (1949)
-
Sajak "Aku Berkisar Antara Mereka" (1949)
-
Sajak "Yang Terhempas dan Yang Luput" (1949)
-
Sajak "Derai-Derai Cemara" (1949)
-
Sajak "Aku Berada Kembali" (1949)
Selain karya tersebut, dalam kurun waktu sekitar enam setengah tahun, Chairil Anwar tercatat menghasilkan 71 sajak asli, 2 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, serta 6 prosa asli dan 4 prosa terjemahan. Ia juga pernah bekerja sebagai redaktur di majalah Gema Suasana dan Siasat, mengasuh rubrik “Gelanggang” bersama Ida Nasution, Asrul Sani, dan Rivai Apin, serta merencanakan majalah “Air Pasang” dan “Arena” yang belum sempat terwujud.
Baca juga: 23 April Jadi Momen Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia, Ini Dia Maknanya
Perjalanan Chairil Anwar menunjukkan bagaimana karya bisa tetap hidup meski waktu terus berjalan. Nah Warginet, lewat semangat dan tulisannya, Chairil Anwar bukan hanya dikenang sebagai penyair, tetapi juga sebagai simbol Hari Puisi Indonesia yang terus dirayakan hingga sekarang.
Sumber: Detik.com
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.