Rumah Sakit dr. Slamet Garut, Lahir dari Perjuangan Dokter Pribumi Melawan Wabah Sampar


Cikal bakal RSU dr. Slamet sudah ada sejak zaman dahulu, tepatnya pada masa pemerintahan kolonial Belanda. 

Usul punya usul, sampai awal tahun 1917, Garut belum memiliki Rumah Sakit. Karenanya pemerintah kolonial Belanda membangun klinik darurat yang dikelola oleh dr. Mulder dan dr. Stiohtor. 

Saat itu, karena gedung dan fasilitas belum memadai, tempat praktek umum klinik tersebut ditempatkan di Gedung Padang Bulan di Societestraat (Gedung BJB, Jl. A Yani, sekarang).

Pada tanggal 19 Juli 1921, Gubernur Jenderal D. Fock dan Sekretaris Jenderal G.R. Erdfrink sebagai wakil dari Sri Ratu Wihelmina dari Kerajaan Belanda, mengeluarkan Besluit No. 10279, tentang perencanaan pembangunan di daerah priangan, termasuk Garut.

Sejak dikeluarkannya kebijakan tersebut, fasilitas umum dan akses jalan mulai dibangun, termasuk jembatan maktal yang menghubungkan antara Jalan Pembangunan dan Jalan Papandayan.  Setahun kemudian, tepat di bulan Maret 1922 dibangunlah Rumah Sakit Umum, yang diketuai oleh dr. Slamet Atmosoediro. 

Pada tahun 1930, wabah Sampar atau Pes yang dibawa oleh Eropa melanda pulau Jawa termasuk Garut. Wabah tersebut menewaskan 240.000 nyawa dan merenggut nyawa Raden Kanduruan Kertanegara yang saat itu menjabat sebagai Camat (kepala bagian kecamatan) wilayah Garut Kota. 

Karena mengganasnya penularan virus tersebut, Mentri Kesehatan saat itu mengutus dr. Slamet untuk menangani kasus penularan. Namun, saat bertugas, dr. Slamet juga ikut terpapar penyakit mematikan ini dan gugur dalam perjuangannya. Hal tersebut berawal dari adanya pasien yang dibawa dari Bandung ke Garut pada awal Mei 1930. Saat itu ada seorang anak yang dibawa oleh orang tuanya dari Bojongloa, Bandung, ke Garut.

Untuk mengenang jasanya, berdasarkan ketetapan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 51/Men.Kes/SK/II/79 tahun 1979  nama dr. Slamet Atmosoediro dijadikan nama RSU Garoet yang, hingga kini dikenal sebagai RSU dr. Slamet.

Data: Diambil dari berbagai sumber


2 Komentar :