Sejarah Kecamatan Singajaya, Tempat Tinggal Pertama Manusia Setengah Siluman
Oleh,
Infogarut
3 tahun yang lalu
-
waktu baca 2 menit
9.2k Dilihat
Asal muasal penamaan suatu daerah, tidak pernah terlepas dari peristiwa sejarah yang melekat di dalamnya. Begitu juga dengan Singajaya, salah satu kecamatan yang terletak di Garut Selatan.
Penamaan "Singajaya", lahir dari cerita rakyat yang diyakini oleh masyarakat setempat. Kata "Singa" dalam "Singajaya" berasal dari nama seseorang yang pertama kali datang ke wilayah tersebut. Konon, ia adalah seorang jelemaan singa atau manusia setengah singa yang terkenal dengan kesaktiannya. Masyarakat setempat menyebutnya dengan Eyang Singajaya. Karena kemampuannya yang tinggi, ia dikenal sebagai sosok pahlawan yang memperjuangkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Kehadiran Eyang Singajaya, memberi pengaruh yang besar bagi masyarakat Singajaya saat itu, salah satunya dalam hal pengetahuan gelaja alam. Seperti bunyi goong setiap malam Jumat, yang menandakan kunjungan Eyang menengok masyarakat. Kemudian bunyi Batu Saheng, yang merupakan pertanda akan adanya gempa. Masyarakat Singajaya juga percaya bahwa jika ada petir yang berbunyi sangat kencang, maka itu adalah pertanda akan datangnya longsor.
Selain cerita tersebut, menurut sebagian masyarakat, nama Singajaya juga memiliki keterkaitan yang erat dengan nama Kecamatan Singaparna yang ada di kabupaten Tasikmalaya. Konon katanya, ada dua singa yang bertarung, kemudian yang menang diberi nama Singajaya dan yang kalah diberi nama Singaparna. Beberapa masyarakat pun, ada yang masih meyakini sosok Eyang Singajaya masih hidup hingga sekarang, namun hanya dapat dilihat oleh sebagian orang.
Cerita rakyat tersebut pada dasarnya lahir dari kepercayaan animisme yang melekat di masyarakat pada masa itu. Kepercayaan itulah yang membentuk nilai-nila kearifan untuk peduli terhadap lingkungan sekitar. Bahkan hingga saat ini, beberapa masyarakat Singajaya masih mengadakan pengajian setiap Jumat pagi untuk mengenang sosok Eyang yang mereka yakini sebagai leluhur. Meski pada kenyataannya, sampai saat ini, kematian Eyang Singajaya belum juga terbukti kebenarannya.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.