Beranda Sejarah Libur Akhir Pekan, Dari Saint Monday hingga Sabtu-Minggu Jadi Hari Libur
ADVERTISEMENT

Sejarah Libur Akhir Pekan, Dari Saint Monday hingga Sabtu-Minggu Jadi Hari Libur

2 jam yang lalu - waktu baca 3 menit
Sejarah Libur Akhir Pekan, Dari Saint Monday hingga Sabtu-Minggu Jadi Hari Libur, Source: Istimewa

Sejarah libur akhir pekan mengungkap perjalanan panjang dari Saint Monday hingga Sabtu dan Minggu menjadi hari istirahat melalui perjuangan buruh dan perubahan industri.

Gagasan mengurangi hari kerja kembali ramai dibahas, bahkan muncul wacana empat hari kerja dalam sepekan di berbagai negara. Menariknya, perdebatan ini ternyata mirip dengan yang terjadi pada abad ke-19, ketika konsep libur akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu pertama kali diperjuangkan dan perlahan diterapkan.

Baca juga: Sejarah Hari Buruh, Dari Aksi Chicago hingga Diperingati 1 Mei

Awal Libur & Saint Monday

Pada abad ke-19, sistem kerja belum mengenal akhir pekan seperti sekarang. Pemerintah Inggris memang mulai mengatur jam kerja dan waktu istirahat di pabrik, namun kebiasaan libur tidak hanya berasal dari regulasi, melainkan juga dari gerakan sosial para pekerja. Salah satu fenomena yang muncul adalah Saint Monday, yaitu kebiasaan tidak bekerja pada hari Senin sebagai bentuk perpanjangan waktu istirahat setelah hari Minggu.

Kebiasaan ini berkembang di kalangan pekerja terampil yang mengatur ritme kerja mereka sendiri, biasanya bekerja secara intensif dari Selasa hingga Sabtu malam. Hari Minggu digunakan untuk beristirahat, sementara Senin menjadi waktu tambahan untuk pulih dari kelelahan, termasuk akibat aktivitas hiburan dan minum-minum di akhir pekan. Meski sering ditentang oleh pemilik perusahaan karena dianggap menurunkan produktivitas, praktik ini tetap bertahan hingga akhir abad ke-19.

Seiring waktu, muncul dorongan untuk menciptakan sistem libur yang lebih teratur. Kelompok agama menilai libur resmi dapat memperbaiki moral pekerja, sementara serikat buruh ingin memastikan hak istirahat yang lebih pasti. Gerakan seperti Early Closing Association pada 1842 mulai mendorong setengah hari kerja pada Sabtu sebagai solusi yang dianggap lebih seimbang antara produktivitas dan kesejahteraan.

Lahirnya Akhir Pekan Modern

Perubahan menuju akhir pekan modern juga didorong oleh berkembangnya industri rekreasi dan transportasi. Operator kereta api menawarkan tarif murah pada Sabtu sore, sementara teater dan tempat hiburan menggeser jadwal utama mereka ke waktu tersebut. Bahkan, popularitas pertandingan sepak bola pada akhir abad ke-19 turut menjadikan Sabtu sore sebagai momen rekreasi yang dinantikan para pekerja.

Selain itu, kelompok sosial seperti gerakan anti-alkohol melihat libur Sabtu siang sebagai cara untuk mengalihkan pekerja dari kebiasaan negatif menuju aktivitas yang lebih sehat, seperti berkebun atau mengunjungi pedesaan. Bagi banyak pihak, waktu luang ini bukan sekadar istirahat, tetapi juga sarana untuk memperbaiki kondisi fisik dan mental masyarakat pekerja.

Meski demikian, penerapan sistem ini tidak terjadi secara serentak di semua wilayah. Dibutuhkan waktu puluhan tahun hingga kebijakan setengah hari kerja pada Sabtu diterima luas, karena keputusan tetap berada di tangan pemilik pabrik. Hingga akhirnya pada 1930-an, terbentuklah sistem libur penuh selama 48 jam pada Sabtu dan Minggu yang diyakini mampu meningkatkan efisiensi serta kehadiran pekerja.

Baca juga: Bukan Cuma Jalan-Jalan, Ini Dia Manfaat Liburan untuk Kesehatan Tubuh

Jadi Warginet, sejarah libur akhir pekan membuktikan bahwa hak istirahat yang dinikmati saat ini merupakan hasil perjuangan panjang berbagai pihak, mulai dari buruh hingga pelaku industri. Memahami perjalanan ini membuat kita semakin menghargai pentingnya keseimbangan antara kerja dan waktu istirahat di tengah dinamika dunia kerja modern.

 

Sumber: BBC

ADVERTISEMENT

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.