Super El Niño Berpotensi Terjadi, Begini Pengaruhnya terhadap Cuaca Global
Prediksi Super El Niño pada 2026 menjadi perhatian para ilmuwan karena fenomena ini dapat memicu perubahan cuaca ekstrem dan berdampak pada banyak negara.
Super El Niño kembali menjadi perhatian setelah para ahli meteorologi memperkirakan fenomena tersebut berpotensi menguat pada 2026. Jika benar terjadi, kondisi ini dapat memicu perubahan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah dunia dan meningkatkan suhu global.
Baca juga: Mengapa Gurun Bisa Terbentuk di Dekat Lautan? Ini Penjelasannya
Peluang Super El Niño
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) telah mengumumkan bahwa kondisi El Niño sudah terbentuk dan diperkirakan akan semakin menguat hingga Belahan Bumi Utara. Sebelumnya, peluang terjadinya El Niño kuat diperkirakan mencapai 50 persen, sedangkan kemungkinan munculnya Super El Niño berada di angka sekitar 25 persen.
Kenaikan suhu permukaan Samudra Pasifik yang telah mencapai sedikitnya 1,5 derajat Celcius di atas rata-rata menjadi salah satu indikator penting yang diamati para ilmuwan. Semakin besar kenaikan suhu yang terjadi, semakin besar pula peluang munculnya El Niño dengan intensitas yang sangat kuat.
Mengutip penjelasan dari Emily Becker yang dilansir National Geographic, perubahan yang dipicu El Niño dapat memengaruhi kondisi atmosfer dalam skala global. Situasi tersebut memberikan peluang lebih besar bagi para ilmuwan untuk memperkirakan berbagai kemungkinan dampak yang dapat muncul sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan lebih awal.
Meski peluang terjadinya Super El Niño yang sangat kuat tergolong cukup besar, Emily Becker menilai prediksi tersebut masih dapat berubah. Menurutnya, gambaran yang lebih jelas mengenai kekuatan El Niño kemungkinan baru akan terlihat ketika memasuki awal musim gugur.
Cuaca Dunia Berubah
Pemanasan yang terjadi di kawasan tengah dan timur Samudra Pasifik tropis dapat meningkatkan aktivitas badai di wilayah tersebut. Dampaknya kemudian menjalar ke berbagai kawasan lain karena perubahan sirkulasi atmosfer mampu memengaruhi pola cuaca dalam skala global.
Dalam sejumlah kejadian sebelumnya, perubahan pola atmosfer akibat El Niño membuat jalur arus jet bergeser ke wilayah yang lebih selatan. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa wilayah seperti Amerika Serikat bagian tenggara dan Texas menerima curah hujan lebih tinggi, sedangkan Afrika bagian selatan justru lebih sering mengalami panas dan kekeringan.
Curah hujan yang lebih rendah di Indonesia dan Australia dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan. Dampak tersebut juga mampu mengganggu produksi pangan dan memperbesar ancaman kelaparan di sejumlah wilayah yang mengalami panas serta kekeringan berkepanjangan.
Di kawasan Atlantik, El Niño meningkatkan geser angin yang dapat menghambat pembentukan badai tropis. Ditambah dengan kondisi sebagian perairan Atlantik yang tidak sehangat tahun sebelumnya, musim badai Atlantik pada 2026 diperkirakan berlangsung mendekati rata-rata atau bahkan berada di bawah kondisi normal.
Baca juga: Super El Niño Diprediksi Menguat, Apa Dampaknya bagi Bumi Kita?
Nah Warginet, Super El Niño menjadi fenomena yang terus dipantau karena pengaruhnya tidak hanya terbatas pada perubahan cuaca, tetapi juga dapat berdampak pada lingkungan, ketersediaan pangan, hingga kehidupan manusia di berbagai negara.
Sumber: National Geographic Indonesia
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.