Cerita Ibu Pemilik Warung Kecil yang Terhubung Ekosistem Digital BRI
Ada sebuah warung kopi kecil di pinggiran kota, bunyi notifikasi ponsel lebih sering terdengar daripada lembaran uang. Sima, sang pemilik warung, menatap layar ponselnya sejenak setelah menempelkan perangkat pelanggan ke mesin EDC (Electronic Data Capture).
“Antrian juga jadi lebih singkat, Transaksinya jadi semakin cepat, bahkan saya rasa laporan penjualan bisa saya cek kapanpun” kata Sima sambil tersenyum.
Sima tak tiba-tiba akrab dengan teknologi, ia adalah seorang ibu muda berusia 31 tahun yang sudah hampir 6 tahun menjalankan warung kopi kecil di pinggiran Kabupaten Garut. Warungnya saat ini didirikan dari sisa tabungan suaminya, yang memang sejak awal mengandalkan pembayaran tunai.
Baca Juga: Payment ID, Sistem Baru BI untuk Deteksi Keuangan Warga
Setiap malam, ia biasa selesaikan laporan keuangan warungnya dengan kalkulator kecil dan buku catatan yang halaman depannya sudah hampir lepas. Pengalamannya dengan transaksi digital bermula dari ajakan pelanggan setianya yang meminta pembayaran lewat QRIS. Sejak itulah Sima mengenal BRImo yang dibantu oleh seorang AgenBRILink di desanya untuk dapat menerima dan menjalankan pembayaran digital.
Bagi Sima termasuk jutaan pelaku usaha mikro lainnya, perubahan itu bukan sekadar soal teknologi, melainkan nafas baru dalam menjalankan usaha. Transformasi yang melingkupi layanan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) selama beberapa tahun terakhir ini telah sampai hingga ke level paling dasar ekonomi rakyat.
Dengan adanya inovasi seperti aplikasi BRImo, ekosistem QRIS untuk pembayaran digital, dan jaringan AgenBRILink yang menjangkau desa-desa, jadi kanal utama yang menghubungkan masyarakat dengan layanan keuangan modern.
Laporan dan pernyataan resmi BRI menunjukkan bahwa komitmen ini bukan semacam retorika. Secara lengkap, Digitalisasi menjadi pilar utama layanan sehingga porsi transaksi digital mencapai angka sangat tinggi dalam beberapa periode pelaporan.
Bukan hanya kenyamanan, data menunjukkan nilai dan volume yang signifikan. AgenBRILink, misalnya, mencatat lonjakan transaksi dan menegaskan perannya sebagai jembatan keuangan di daerah terpencil, membantu distribusi subsidi, pembayaran gaji, serta transaksi perdagangan kecil yang sebelumnya tergantung pada kas fisik.
Pertumbuhan AgenBRILink bukan hanya angka, itu berarti lebih sedikit desa yang “tidak tersentuh” layanan perbankan.
Di sisi aplikasi, BRImo berevolusi dari mobile banking menjadi super app yang memproses milyaran transaksi dan mencatat puluhan juta pengguna aktif. Bagi pengguna urban, BRImo menawarkan kemudahan transfer, pembayaran tagihan, serta fitur merchant yang memudahkan pelaku usaha memantau pemasukan.
Baca Juga: Penggunaan QRIS Dipastikan Bisa Digunakan di China-Korsel Tahun 2026
Sementara bagi pemerintah dan korporasi, aplikasi semacam ini bisa mempercepat aliran dana dan transparansi. Keduanya krusial untuk efektivitas program-program sosial dan layanan publik.
Inovasi lain yang penting dicatat adalah penguatan ekosistem QRIS dan fitur-fitur baru seperti QRIS TAP BRImo, yang memungkinkan transaksi berbasis NFC sehingga pelanggan cukup “menempelkan” ponsel.
Fitur tersebut tentu dapat memperkaya pilihan pembayaran dan menurunkan hambatan bagi pelaku usaha yang ingin menerima pembayaran digital tanpa investasi besar pada infrastruktur. Efeknya terasa pada peningkatan volume transaksi merchant dan adopsi oleh pelaku UMKM.
Meski begitu, jalan transformasi tidak sepenuhnya mulus. Tantangan seperti literasi digital, akses infrastruktur internet di pelosok, dan kepercayaan terhadap keamanan siber masih menjadi pekerjaan rumah.
Untuk itu, strategi BRI yang menggabungkan teknologi (BRImo, QRIS) dengan pendekatan fisik (AgenBRILink) hadir sebagai model hybrid, menggabungkan kecepatan digital dengan kehadiran manusia di lapangan. Model ini mengurangi ketimpangan akses layanan keuangan antara kota dan desa, sehingga manfaat digitalisasi terasa lebih merata.
Kisah Sima menjadi cermin dari gambaran besar tersebut. Sejak menerima pembayaran digital, omzet hariannya naik perlahan, dan ia lebih mudah mengatur arus kas warung. “Dulu saya takut pegang aplikasi, sekarang saya malah cari tahu fitur baru,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Di banyak wilayah Indonesia, perubahan yang serupa tentu sedang berlangsung, bukan karena teknologi itu sempurna, tetapi karena teknologi kini dihadirkan agar sesuai dengan ritme dan kebutuhan rakyat.
Dengan begitu, digitalisasi bukan tujuan akhir, ia adalah jembatan untuk menghadirkan kemajuan yang lebih merata.
Saat teknologi, pelayanan, dan pendekatan kemanusiaan berjalan beriringan, maka slogan “Bersama Rakyat Indonesia Maju” bukan lagi sekadar kampanye, melainkan kenyataan yang tumbuh di warung kopi, pasar tradisional, dan desa-desa yang dulu jauh dari akses layanan keuangan.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.