Dongeng Sunda Asal-usul Gunung Kendang


[Illustration : wikiloc.com]

Dari zaman dahulu, Kabupaten Garut sudah terkenal dengan cerita atau dongeng, termasuk cerita nama tempat, cerita gunung dan lain-lain. Kabupaten Garut dikelilingi oleh gunung-gunung, seperti yang tertera pada logo Pemerintah Kabupaten Garut, diantaranya yaitu terdapat Gunung Cikuray, Gunung Guntur, Gunung Cakrabuana, Gunung Papandayan dan Gunung Talaga Bodas dan tentunya masing-masing gunung tersebut memiliki ceritanya tersendiri.

Diantara gunung-gunung yang ada di Garut, ada salah satu gunung yang mempunyai cerita yang tersebar di masyarakat sekitarnya, yaitu di Kecamatan Cisompet, tepatnya di wilayah Desa Sukamukti di kawasan perhutanan yang terkenal Blok Jagasatru.

Ketika menemukan kata ‘kendang’, maka gunung itu akan ada kaitannya dengan salah satu alat seni karawitan Sunda, yaitu Waditra Kendang. Selain itu, Gunung ini juga disebut Gunung Kendang karena terdapat batu-batu berhamburan atau jika diteliti lebih dalam itu mirip seperti kendang, goong, angel, guling dan gulungan kasur. Batuan yang mirip gulungan kasur ini diantaranya ada 14, ada yang berdiri dan berbaring. Sedangkan untuk yang seperti guling, panjangnya sekitar 1,5 meter.

Nah, bagaimana sih asal usulnya sampai disebut Gunung Kendang?Yuk simak ceritanya !

Menurut masyarakat sekitar, pada zaman dahulu diceritakan ada seseorang yang bernama Ki Sutaarga yang merupakan salah satu orang kaya raya di Desa Sukamukti. Ki Sutaarga mempunyai kebiasaan kurang baik yaitu mencelakai orang lain. Penyebabnya adalah karena Ki Sutaarga tidak suka jika ada orang lain yang menyaingi kekayaannya serta lebih maju segalanya dari Kisutaarga.

Di Desa Sukamukti kebetulan ada salah satu dalang yang terkenal dan Ia terkenal juga di desa-desa lainnya. Selain bisa memainkan wayang, Ki Dalang juga pandai melawak terlebih lagi jika sudah ada Si Cepot dan kawan-kawan, yang menonton sampai tidak bisa berhenti untuk tertawa. Tetapi ada satu cerita yang Ki Dalang tidak mau menceritakannya dalam pertunjukan wayang, dan cerita itupun dirahasiakan karena akan sial pada dirinya sendiri.

Mendengar Ki Dalang yang terkenal sampai ke desa lain, Ki Sutaarga merasa tersaingi dan langsung mencari cara agar Ki Dalang tidak ada di Desa Sukamukti. Akhirnya, salah satu jalan yang dimiliki oleh Ki Sutaarga yaitu dengan menghilangkan nyawa Ki Dalang. Rencana yang digunakan Ki Sutaarga yaitu mengadakan pertunjukan wayang  dengan cerita yang  Ki Dalang tidak pernah mau  membawakan di pertunjukan wayang.

Dengan hal itu, Ki Dalang kaget dengan permintaan  Ki Sutaarga dan sudah mencurigai bahwa akan ada hal yang tidak baik kepada dirinya. Tetapi Ki Dalang tetap tidak memperlihatkan kecurigaannya. Setelah mempertimbangkan segala hal, Ki Dalang menolak kemauan dari Ki Sutaarga dengan penjelasan bahwa Ki Dalang tidak bisa membawakan cerita wayang yang diinginkan Ki Sutaarga sampai selesai. Tetapi Ki Sutaarga tetap  bersikeras untuk mengadakan pertunjukan wayang tersebut sampai tamat danberani untuk  membayar berapapun.

“Bisa saja dipertunjukan sampai selesai, tapi dengan syarat bayarannya lebih besar dari biasanyadan dibayar diawal , apakah sanggup?” ucap Ki Dalang.

“Sanggup, bahkan jika tidak cukup bayarannya bisa ditambah dengan sawah sepetak , asal cerita yang diinginkan bisa diceritakan sampai tamat,” jawab Ki Sutaarga.

Sebagaimana yang sudah direncanakan,  dua hari setelah negosiasi terlaksanalah pertunjukan Wayang Golek seperti perjanjian dengan Ki Sutaarga. Sejak sore, penonton sudah banyak yang berdatangan baik dari desa Sukamukti maupun dari desa lain.

Saat pertunjukan dimulai oleh dalang, ada penonton yang sungguh-sungguh memperhatikan cerita yang sedang dipertunjukan oleh Ki Dalang, meskipun diiringi oleh  penabuh gamelan yang mahir di bidang karawitan, ditambah dengan iringan suara Sinden yaitu Nyai Astakembang yang  nyinden dengan sangat enak didengar.  Apalagi menjelang malam, Si Cepot dan kawan-kawan dari karang tumaritis sudah mulai muncul yang membuat penonton tertawa lebih ramai lagi.

Hingga cerita hampir selesai sekitar waktu subuh, datang dua orang dengan pakaian seragam  pegawai Kabupaten. Maksud kedatangannya yaitu menyampaikan perintah Bupati agar Dalang, Sinden, dan para penabuh gamelan bisa  menghadap ke  Bupati karena kedatangannya sangat ditunggu. Sehingga Ki Dalang dan yang lainnya langsung bersiap dan tidak lupa memberi tahu ke Ki Sutaarga bahwa mereka ada panggilan dari  Bupati.

Setelah berpamitan dengan Ki Sutaarga, mereka langsung berangkat bersama 2 pegawai suruhan tersebut untuk sampai di tempat Bupati. Sampai pada akhirnya sampai , mereka sampai di Gedung Kabupaten saat waktu sudah menuju siang, tapi anehnya dua pegawai suruhan Bupati hilang tanpa diketahui oleh siapapun.  Bahkan Kabupaten yang biasanya ramai, saat itu tampak sepi. Semua rombongan yang ikut dengan Ki Dalang pun hilang entah kemana, yang tersisa hanya gamelan-gamelan dan kasur yang  dipakai duduk sinden, itu pun berubah menjadi batu. Hingga sampai sekarang, terkenal gunung tersebut dengan nama Gunung Kendang. Hal itu terjadi karena kejadian yang dialami oleh Ki Dalang  dan rombongannya yang sudah menggelar pertunjukan cerita lyang padahal tidak diinginkan oleh Ki Dalang tersendiri.

Menurut masyarakat sekitar, setiap malam selasa atau jumat kliwon sering terdengar suara –suara seperti ada keramaian menggelar pertunjukan wayang golek. Suara sinden yang terdengar sambil terbawa angin dan suara penabuh alat kesenian yang  mengiringi membuat suasa terasa sangat ramai.

Banyak orang yang tertipu, seperti orang-orang dari wilayah selatan Gunung Kendang seperti Cikareo, Bantar Peundeuy, dan lain sebagainya, mereka datang bersama-sama menyangka ada pertunjukan wayang, padahal keramaian pertunjukan tersebut entah dari mana datangnya.

 

 

 

Sumber Cerita : Buku Dongeng-Dongeng Pakidulan, Disparbud Garut

 


0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka