Kebaya Sunda, dari Sejarah hingga Status Sosial di Dalamnya

Kebaya Sunda, dari Sejarah hingga Status Sosial di Dalamnya
Jawa Barat dikenal sebagai wilayah yang kaya akan warisan budaya. Salah satunya adalah Kebaya, pakaian adat yang menjadi simbol kecantikan kaum hawa.

Menurut sejarahnya, Nama "Kabaya" sendiri berasal dari kata serapan Arab "kaba" atau "qaba" yang berarti "pakaian" dan "abaya" yang berarti jubah atau garmen longgar. Seiring perkembangan zaman, nama ini kemudian mengalami perubahan menjadi cabaya yang diserap dari Bahasa Eropa.

Pada periode terakhir Kerajaan Majapahit, pengaruh Islam mulai berkembang di wilayah Jawa. Para perempuan yang semula menggunakan Kemben, mulai menggunakan Kabaya dengan kain yang menutup bahu dan lengan panjang. 
Sekitar tahun 1500-1600, kebaya mulai memasuki lingkup kerajaan dan dipakai oleh keluarga menak sebagai pakaian resmi pada acara-acara tertentu.

Dahulu, kaum bangsawan Sunda menggunakan Kebaya dengan corak hitam beludru berhiaskan benang emas, kain kebat bermotif rereng, dan selop. Pada tahun 1800-an, bersamaan dengan masuknya era pemerintahan Belanda di Indonesia,  penggunaan Kebaya mulai diperuntukan berdasarkan kelas sosial. Masyarakat dari kalangan keraton dan kerajaan menggunakan Kebaya berbahan beludru dan sutera, sementara keturunan bangsa asing menggunakan kebaya berbahan katun dengan potongan lengan pendek, kemudian masyarakat kalangan bawah menggunakan kebaya berbahan tenun dengan harga murah.

Kebaya sebagai pakaian  juga memiliki makna mendalam bagi perempuan pada masa itu. Kebaya merupakan simbol kelembutan, kepatuhan dan harga diri seorang perempuan. 

Hingga kini, penggunaan kebaya sebagai pakaian wanita telah berkembang sesuai perubahan zaman. Kebaya diproduksi dengan motif beragam dengan corak modern. 

Komentar

Belum Ada Komentar
Anda belum dapat berkomentar. Harap Login terlebih dahulu