Kesenian Bangreng, Ritual Kesuburan Para Petani di Kecamatan Cilawu

Kesenian Bangreng, Ritual Kesuburan Para Petani di Kecamatan Cilawu

Bagi masyarakat agraris, ritual pertanian berperan sebagai bentuk syukur kepada sang penguasa alam yang telah memberikan kenikmatan berupa hasil bumi. Di Desa Mekarmukti, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, terdapat salah satu kesenian tradisional bernama Bangreng yang berkaitan erat dengan ritual-ritual pertanian.

Seni Bangreng merupakan bentuk kesenian rakyat yang memiliki nilai religi yang kuat. Oleh karena itu, masyarakat Cilawu masih meyakini kesenian ini sebagai salah satu simbol kepercayaan nenek moyang. Meski kini, sebagaian besar dari masyarakat sekitar sudah tak mengenali eksistensi dari kesenian ini.

Menurut sejarahnya, istilah "Bangreng" berasal dari dua suku kata, yaitu "bang" yang artinya Terbang dan "reng" yang artinya Ronggeng. Terbang adalah alat-alat kesenian yang terbuat dari kayu dengan muka bulat yang berkulit seperti rebana. Sedangkan Ronggeng merupakan juru kawih yang merangkap penari wanita dalam iringan ketuk tilu. Sehingga, dapat diambil kesimpulan bahwa Kesenian Bangreng merupakan suatu kesenian rakyat yang dalam praktiknya menggunakan alat musik juga seorang penari rongeng.

Kesenian ini, dulunya digunakan sebagai ritual kesuburan bagi petani di Desa Mekarmukti, Kecamatan Cilawu. Ritual tersebut biasanya dilakukan berbarengan dengan upacara keagamaan untuk keberhasilan panen. Upacara tersebut dimulai sejak penaburan benih, perawatan, sampai pada saat padi dituai.

Selain berfungsi sebagai sarana ritual, di beberapa wilayah, kesenian ini juga berperan sebagai sarana hiburan pada acara ruwatan, yaitu upacara melepaskan atau membebaskan seseorang dari kutukan dewa. Terbentuknya Kesenian Bangreng ini juga erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam di Kabupaten Sumedang. Sebelum Sunan Gunung Jati mengislamkan beberapa daerah di Jawa Barat.

 

 

 

 

Komentar

Belum Ada Komentar
Anda belum dapat berkomentar. Harap Login terlebih dahulu