Beranda Kesenian Tradisional Badeng Garut: Media Dakwah Melalui Alat Musik
ADVERTISEMENT

Kesenian Tradisional Badeng Garut: Media Dakwah Melalui Alat Musik

6 jam yang lalu - waktu baca 3 menit
Kesenian Tradisional Badeng Garut: Media Dakwah Melalui Alat Musik (Source:kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Kesenian tradisional Badeng berasal dari Desa Sanding, Malangbong, Garut. Kesenian ini memanfaatkan alat musik seperti angklung dan dogdog, yang juga digunakan sebagai media dakwah dalam menyebarkan agama islam pada abad ke-17.

Kesenian Badeng ini diciptakan oleh Arfaen Nursaeni yang dikenal oleh banyak orang dengan sebutan Lurah Acok.Ia bukan berasal dari Garut, melainkan dari Banten namun menjadi tokoh penyebar agama Islam di Malangbong Garut semenjak penemuan Badeng sebagai media dakwah yang ia gunakan. 

Kesenian ini sudah digunakan pada abad ke-17 sebagai media penyebaran agama Islam di wilayah masyarakat Sanding. Karena pada saat itu, banyaknya masyarakat setempat yang menganut agama Hindu, Budha, bahkan sampai Animisme dan Dinamisme. 

Dari sanalah datangnya tokoh penyebar agama Islam dari Banten Lurah Acok untuk membantu sebarkan agama Islam di Kampung Sanding, salah satunya dengan memanfaatkan alat seni sebagai media dakwahnya sebagai pusat perhatian. 

Saat itu Lurah Acok berfikir dengan dalam bagaimana cara ia menyebarkan agama islam di wilayah tersebut. Yang mana pada saat itu, Islam masih sangat asing bagi mereka. 

Baca juga: Mengenal Achdiat Karta Mihardja, Sastrawan Fenomenal Asal Garut

Hingga pada suatu waktu, ia berjalan menuju perkampungan yang ada di Malangbong. Ditengah jalan ia menemukan benda berbentuk panjang bulat terbuat dari bambu serat. Ia pun membawa benda tersebut ke rumahnya dan membuat alat tersebut bisa mengeluarkan bunyi. 

Sejak saat itulah, Arfaen Nusaen memerintahkan para santri nya untuk membuat alat yang terbuat dari bambu dan menghasilkan bunyi untuk memadukan suara dari alat yang sudah Arfaen atau yang sering dikenal Lurah Acok tersebut dibuat tadi. Sehingga akhirnya, perpaduan alat musik tersebut menghasilnya bunyi yang indah dan enak didengar, ditambah dengan nyayian irama sunda buhun dan arab atau sholawatan. 

Pada saat itu lah, Lurah Acok dibantu dengan para santrinya yang setiap hari bekeliling menemui masyarakat yang ada di kampung tersebut dengen berbekal alat musik yang sudah dibuat. Alat itu digunakan untuk memanggil para masyarakat berkumpul bermusyawarah, ditambah Lurah Acok yang sambil memasukkan ajaran agama Islam di dalamnya. 

Alat tersebut dimainkan dengan menghasilkan suara yang merdu ditambah nyanyian sholawat yang isi syair nya mengajak kepada masyarakat untuk masuk ke ajaran agama Islam. 

Sejak saat itulah, Lurah Acok memberinama kesenian Badeng, yang artinya musyawarah berunding dengan menggunakan suatu alat. 

Namun, seiiring dengan perkembangannya zaman, kesenian ini tidak hanya sebagai bentuk media penyebaran agama islam yang saat ini digunakan. Namun, banyak yang memampilkan kesenian tradisional ini sebagai bentuk hiburan diacara-acara besar, seperti untuk menyambut tamu besar, Mauludan, khitanan, dan lain-lain. 

Baca juga: Mengenal Lebih Dalam Kesenian Tutunggulan Dangiang

Pada tahun 1970 bidang Kebudayaan Dapartemen Kebudayaan Wilayah Provinsi Jawa Barat mulai mengukuhkan kelompok Organisasi Kesenian Badeng di Desa Sanding Malangbong Kabupaten Garut dengan nama “Medal Cipta”. Sebelumnya, organisasi ini memang menaungi berbagai kesenian yang ada selain Badeng. 

Alat dari kesenian Badeng ini meliputi, dua buah angklung kecil bernama Roel. Dua buah dogdog lonjot, dan tuju buah angklung yang agar besar terdiri dari angklung indung, kenclung, dan anklung kecer.

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.