Legenda Cerita Rakyat Meniup Suling Saat Mendaki di Gunung Guntur: Artinya Memanggil Maung Bungkeuleukan
Meniup suling saat mendaki gunung Guntur, berarti memanggil Maung Bungkeuleukan, adalah bagian dari mitos dan kepercayaan masyarakat Garut.
Mitos tersebut telah dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Garut, khususnya di sekitaran Gunung Guntur. Artinya suara yang dikeluarkan lewat suling dianggap bisa memanggil makhluk gaib penjaga gunung seperti berupa macaan siluman yang biasanya disebut Maung Bungkeuleukan.
Cerita dari legenda ini sudah turun temurun sejak zaman dulu sampai dengan sekarang. Cerita tersebut dikisahkan oleh para orang tua zaman dulu kepada anak-anaknya.
Gunung Guntur yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, tidak hanya dikenal sebagai salah satu destinasi pendakian populer, tetapi juga menyimpan cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat sekitar. Salah satu cerita yang paling sering diceritakan adalah larangan meniup suling saat mendaki Gunung Guntur.
Baca juga: Kenapa Garut Disebut Kota Swiss van Java? Ternyata Ini Asal-usulnya!
Berdasarkan cerita dari turun temurun, Di kaki selatan Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat, berdirilah Kampung Bojong Masta, sebuah kampung kecil yang hidup berdampingan dengan alam.
Rumah-rumah kayu di kampung ini dibangun rendah, seolah menghormati gunung. Warga Bojong Masta dikenal berbicara pelan dan menjaga sikap, bukan karena rasa takut, melainkan karena kebiasaan menghormati alam dan kekuatan yang lebih besar dari manusia.
Terdapat seorang anak yang bernama Raka Prawira. Sejak kecil, ia dikenal sebagai pemuda pendiam yang lebih akrab dengan kesunyian. Di pinggangnya, hampir selalu terselip suling bambu tua, peninggalan ayahnya.
Ayah Raka pernah mengatakan bahwa bambu suling itu berasal dari tempat yang tidak semua orang bisa melihatnya.
Kalimat itu tak pernah dijelaskan lebih jauh. Suatu hari, Gunung Guntur meletus dengan cara yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Ayah Raka pergi menggiring ternak dan tak pernah kembali. Gunung seakan menelan jejaknya, meninggalkan suling bambu sebagai satu-satunya peninggalan.
Sejak kejadian itu, suasana Kampung Bojong Masta berubah. Warga menjadi lebih pendiam, dan larangan-larangan lama kembali diingatkan, salah satunya adalah larangan meniup suling di gunung.
Namun, bagi Raka menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu dalam diam, hingga suatu malam Gunung Guntur kembali menunjukkan tanda-tanda kegelisahannya. Malam itu, Raka bermimpi mendengar suara yang memanggilnya, suara yang terasa nyata dan dalam.
Baca juga: Tradisi Mikanyaah Munding, Kearifan Lokal Sunda yang Masih Lestari
Raka memutuskan untuk mendaki Gunung Guntur. Ia membawa bekal seadanya dan menyelipkan suling bambu ke balik bajunya. Ia tidak berniat menantang gunung, melainkan ingin memahami suara yang selama ini memanggilnya. Saat mendekati kaldera, kabut turun tebal dan suasana menjadi hening. Dalam keheningan itu, Raka meniup suling bambu peninggalan ayahnya.
Gunung bergetar perlahan, dan dari balik kabut muncul Maung Bungkeuleukan, harimau raksasa dengan tubuh gelap seperti lava dan mata kuning penuh kebijaksanaan. Maung Bungkeuleukan bertanya mengapa Raka meniup suling.
Dengan jujur, Raka menceritakan tentang ayahnya, tentang kehilangan, dan tentang rasa ingin tahu yang ia simpan selama bertahun-tahun. Sang penjaga gunung menjelaskan bahwa ayah Raka meniup suling untuk merawat alam, bukan untuk memanggil kekuatan gaib. Namun manusia sering lupa membedakan antara doa dan kesombongan.
Setelah pertemuan itu, kabut perlahan menghilang. Suling bambu di tangan Raka retak dan patah, seolah tugasnya telah selesai. Raka ditemukan warga keesokan paginya di kaki Gunung Guntur, selamat namun dengan sorot mata yang lebih tenang dan dalam.
Sejak saat itu, Raka tidak pernah lagi meniup suling. Ia memilih menjadi penjaga jalur pendakian Gunung Guntur, mengajarkan para pendaki untuk menjaga sikap, berbicara pelan, dan menghormati alam.
Masyarakat percaya bahwa ketika malam terasa terlalu sunyi dan terdengar gemuruh tertahan dari arah gunung, Maung Bungkeuleukan sedang berjalan, mengingatkan manusia bahwa gunung bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk didengarkan. Namun, hingga kini, belum ada kesaksian orang yang pernah berjumpa langsung dengan Maung Bungkeuleukan itu.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.