Tradisi Mikanyaah Munding, Kearifan Lokal Sunda yang Masih Lestari
Tradisi Mikanyaah Munding merupakan warisan budaya Sunda yang mengajarkan rasa syukur, kasih sayang terhadap kerbau, serta nilai kearifan lokal masyarakat agraris.
Tradisi Mikanyaah Munding menjadi warisan budaya Sunda yang masih dijaga oleh masyarakat agraris di Jawa Barat. Mengutip dari Jurnal Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran, tradisi ini menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, hewan ternak, dan alam dalam kehidupan pertanian berkelanjutan.
Baca juga: Kontes Seni Ketangkasan Domba Garut: Sejarah, Lokasi Kontes, dan Hukumnya dalam Islam
Makna Tradisi Mikanyaah Munding
Tradisi Mikanyaah Munding secara harfiah berarti menyayangi kerbau, hewan yang memiliki peran vital dalam aktivitas pertanian tradisional masyarakat Sunda. Kerbau tidak semata-sema dipandang sebagai alat kerja, melainkan bagian dari kehidupan petani yang harus dipelihara dengan penuh rasa tanggung jawab.
Nilai inti dari tradisi Mikanyaah Munding yaitu penanaman sikap welas asih terhadap makhluk hidup dan lingkungan sekitar. Konsep ini menuntun bahwa kesejahteraan manusia sangat bergantung pada keharmonisan hubungan dengan alam serta hewan yang menunjang kehidupan sehari-hari.
Tahapan Prosesi Ritual
Penerapan tradisi Mikanyaah Munding terdiri dari beberapa tahapan sakral yang dilakukan secara berurutan oleh pemilik kerbau. Tahap pertama diawali dengan persiapan sesajen dan pembacaan doa sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas manfaat kerbau.
Tahap selanjutnya adalah Ngamandian Munding, yaitu prosesi memandikan kerbau yang diiringi dengan alunan degung Sunda. Ritual tersebut dimaknai sebagai simbol pembersihan lahir batin, baik bagi kerbau maupun pemiliknya, sebelum kembali dimanfaatkan di lahan pertanian.
Nilai Sosial dan Pelestarian Budaya
Selain nilai spiritual, tradisi Mikanyaah Munding juga memiliki fungsi sosial yang kuat dalam masyarakat pedesaan. Tradisi ini menjadi ruang kebersamaan warga sekaligus alat pewarisan nilai budaya kepada generasi muda agar tidak terkikis modernisasi.
Sementara itu, menurut infobandungbarat.com, tradisi ini bermula dari ajaran Eyang Mundinglaya Dikusumah yang mengedepankan pentingnya menghormati hewan pekerja. Nilai ini relevan sebagai edukasi ekologis serta pelestarian budaya lokal berkelanjutan.
Baca juga: Melestarikan Budaya: Ini Kesenian Khas Garut yang Masih Eksis Hingga Saat Ini!
Jadi Warginet, tradisi Mikanyaah Munding bukan sekadar ritual adat, melainkan sebagai gambaran filosofi hidup masyarakat Sunda yang menjunjung rasa syukur dan kasih sayang. Mempertahankan tradisi ini berarti menjaga identitas budaya sekaligus mewariskan nilai luhur kepada generasi masa depan.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.