ADVERTISEMENT
Beranda Tak Hanya Overthinking, Alasan Lain Gen Z Rentan Terkena Depresi!
ADVERTISEMENT

Tak Hanya Overthinking, Alasan Lain Gen Z Rentan Terkena Depresi!

2 jam yang lalu - waktu baca 2 menit
Tak Hanya Overthinking, Alasan Lain Gen Z Rentan Terkena Depresi! (Source:freepik)

Data kesehatan nasional menunjukkan adanya peningkatan nyata gangguan mental pada kelompok usia muda, terutama depresi.

Gen Z seringkali diperbincangkan dengan kesehatan mentalnya. Pasalnya, overthinking di tengah malam jadi rutinitas yang biasa dilakukan oleh generasi generasi muda saat ini. Ini bukan hanya sekedar fenomena media sosial biasa. 

Karena menurut survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI, prevalensi depresi nasional berada pada angka 1,4%. Data tersebut menunjukkan pada angka yang jauh lebih tinggi pada kelompok usia 15–24 tahun yaitu 2%. Itu artinya, menjadikan Gen Z sebagai kelompok umur dengan tingkat depresi tertinggi di Indonesia.

Baca juga: Tips untuk Tetap Aman Berolahraga Saat Musim Hujan

Selain itu, adanya ketimpangan berdasarkan karakteristik sosial. Perempuan tercatat memiliki tingkat depresi sebesar 2,8%, jauh lebih tinggi dibanding laki-laki yang berada pada angka 1,1%.

Jika dilihat data dari tahun 2024 dan 2025, pun menghasilkan hasil yang sama, yaitu Gen Z tetap mendominasi. Survei di Indonesia tahun 2024 lainnya, menunjukkan lebih dari 37% Gen Z mengalami gejala gangguan mental akibat tekanan, menurut ONE Indonesia. 

Menurut laporan World Happiness Report 2025 , usia 18–29 tahun adalah periode krusial di mana banyak gangguan mental pertama kali muncul. Faktor-faktor seperti isolasi sosial, tekanan akademik, dan kenyamanan masa depan mengurangi kondisi ini. Di Indonesia, fenomena ini terlihat dari meningkatnya keluhan stres dan burnout di kalangan pelajar dan pelajar.

Melihat fenomena tersebut terbukti jika Gen Z tidak hanya mengalami overthinking biasa yang merusak kesehatan mental. Namun, terdapat alasan lainnya yang menyebabkan Gen Z rentan terkena depresi. 

Baca juga: Jangan Sepelekan Olahraga Jalan Kaki, Pondasi dari Segala Olahraga

1. Tekanan sosial dan ekonomi lebih meningkat

Di perkembangan zaman saat ini, Gen Z lebih banyak menerima tuntutan akademik , persaingan kerja, dan juga ketidakpastian ekonomi. 

2. Over stimulus karena akses informasi

Seringkali rasa insecure yang datang pada seseorang karena dipicu dari media sosial yang sangat memudahkan seseorang untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Paparan konten negatif dapat memperburuk kondisi mental.

3. Tingginya risiko bunuh diri

Dikutip dari pikiranrakyat, menurut data SKI 2023 menunjukkan 61% anak muda dengan depresi pernah berpikir untuk mengakhiri hidup dalam satu bulan terakhir. Data ini menunjukkan 36 kali lebih besar dibanding anak muda tanpa depresi. 

Meskipun begitu, namun Gen Z lebih aware atau lebih peduli pada kesehatan mental. Gen Z mengakui masalahnya, mencari bantuan, dan tidak menganggap kesehatan mental sebagai tabu. Kenyataannya gen Z inilah yang lebih peka dari generasi lainnya terhadap isu kesehatan mental .

ADVERTISEMENT

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.

ADVERTISEMENT