4 Kebudayaan Jawa Barat yang Hampir Punah, Termasuk Kaulinan Barudak Zaman Dulu
Dalam setiap kebudayaan di setiap wilayah termasuk Jawa Barat pastinya memiliki nilai positif yang baik bagi masyarakat. Harusnya, budaya yang hampir punah memotivasi kita untuk terus melestarikannya.
Kebudayaan menjadi salah satu tradisi dan kebiasaan yang telah turun temurun dilakukan dari zaman ke zaman. Namun, saat ini zaman yang mendorong lebih berkembang dan maju membuat kebudayaan dari berbagai wilayah semakin redup.
Termasuk wilayah Jawa Barat. Ada banyak sekali kebudayaan Jawa Barat, seperti kaulinan barudak yang saat ini sudah sangat jarang kita lihat di lingkungan masyarakat. Karena sekarang sudah banyaknya anak-anak beralih ke permainan digital dari gadget.
Perkembangan zaman yang cepat serta era digitalisasi, semakin menggerus kebudayaan Jawa Barat sehingga hampir punah. Bukan hanya kaulinan/permainan yang biasanya dilakukan oleh anak anak, namun budaya lainnya juga sudah sangat jarang dilakukan di masyarakat.
Baca juga: Tradisi Mikanyaah Munding, Kearifan Lokal Sunda yang Masih Lestari
1. Kaulinan Barudak/ Permainan Anak-anak
Permainan tradisional yang biasa dilakukan oleh anak-anak sekarang sudah hampir punah di masyarakat. Perhatian anak saat ini beralih ke permainan modern, terlebih di era digitalisasi banyak menggandrungi semisal game online.
Padahal permainan yang biasa dilakukan oleh anak-anak zaman dulu tak kalah serunya dengan permainan game online.
Kaulinan barudak yang menjadi permainan anak-anak zaman dulu dan sekarang sudah hampir punah, diantaranya.
- Beklen
- Sapintrong
- Bebeletokan
- Ucing sumput
- Gatrik
- Perepet jengkol
- Dampuh
- Maen kaleci
2. Marak Lauk
Marak lauk adalah kegiatan yang sering dilakukan oleh orang tua dulu, yakni menangkap ikan di sungai. Tradisi budaya ini hampir punah, padahal tujuannya untuk mempererat silaturahmi antar warga dan sebagai ajang hiburan di kampung.
Biasanya tradisi ini dibarengi dengan kesenian lain seperti, ibing pencak silat, angklung dogdog lojor, reog, calung, dan lain-lain.
3. Nyawang Bulan
Sebuah tradisi leluhur masyarakat Sunda yang bertujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Tradisi ini digelar rutin saat bulan Purnama di setiap bulannya.
Nyawang Bulan selalu digelar di area terbuka, seperti di hutan lindung maupun di alam bebas lainnya. Saat ini sudah sangat jarang ada wilayah yang masih mempertahankan budaya ini.
4. Bangreng
Kata bangreng berasal dari dua suku kata “bang“ dan “reng“ yang masing-masing merupakan akronim dari kata terbang dan ronggeng. Terbang adalah bunyi dari alat yang terbuat dari kayu, sedangkan ronggeng adalah juru kawihnya.
Seni bangreng merupakan suatu bentuk kesenian rakyat yang mempergunakan terbang serta waditra lainnya, dan ditambah dengan ronggeng sebagai penari sekaligus juru sekar.
Dilansir dari jabarinews, budaya ini tumbuh di daerah yang bermasyarakatkan petani atau daerah agraris lebih cenderung difungsikan sebgai saran ritual upacara keagamaan terutama dalam hubungannya dengan kesuburan bagi lahan pertanian dan keberhasilan panen.
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.