Kenali 15 Suara Hewan (Sora Sasatoan) dalam Bahasa Sunda yang Unik dan Lucu
Di tengah derasnya arus globalisasi, banyak anak muda, terutama Generasi Milenial dan Gen Z, yang tanpa sadar sudah mulai melupakan istilah-istilah khas dalam bahasa daerahnya sendiri. Anak-anak muda cenderung lebih senang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing seperti bahasa Inggris untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi ini turut berdampak pada semakin jarangnya penggunaan kosakata tradisional, salah satunya adala suara-suara hewan dalam bahasa Sunda (sora sasatoan), yang dahulu sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Hal ini tidak boleh dibiarkan, karena mempelajari sora sasatoan termasuk dalam cara untuk memperkenalkan dan melestarikan bahasa Sunda sejak dini.
Jika istilah-istilah yang sangat nyunda ini tidak banyak digunakan lagi oleh generasi muda, bukan tak mungkin jika kosakata-kosakata bahasa daerah akan hilang di masa depan. Warginet, tulisan ini akan membahas tentang suara-suara hewan dalam bahasa Sunda alias sora sasatoan, lengkap dengan penjelasan singkat agar mudah diingat.
Yuk, hayu urang diajar sora sasatoan dina basa Sunda bareng!
Apa Itu Sora Sasatoan Bahasa Sunda?
Sora sasatoan adalah tiruan bunyi hewan yang diekspresikan dengan gaya fonetik khas Sunda. Sora sasatoan memiliki variasi bunyi yang terdengar ‘hidup’ dan mirip dengan suara hewan yang terdengar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Menariknya, beberapa suara hewan dalam bahasa Sunda dituliskan mirip dengan bunyinya. Satu contoh sederhananya adalah suara bebek yang diinterpretasikan dalam bahasa Sunda dengan ‘ngawékwék’. Suara ini merujuk pada suara bebek yang terdengar seperti 'wekwekwek'.
Hal ini menunjukkan betapa unik dan eratnya bahasa Sunda dengan alam dan lingkungan sekitar. Sebagai bagian dari melestarikan kosakata bahasa Sunda, mengenal dan mempelajari sora sasatoan penting dilakukan sejak dini pada anak-anak.
Baca Juga: 30 Nama Anak Hewan dalam Bahasa Sunda dan Contoh Penggunaannya dalam Kalimat
Daftar Lengkap Suara Hewan dalam Bahasa Sunda
|
No |
Hewan |
Sebutan Suara dalam Bahasa Sunda |
Keterangan Singkat |
|
1. |
Anjing |
Ngagog, nyungunggun, babaung |
Digunakan untuk menggambarkan anjing menggonggong atau melolong. |
|
2. |
Babi |
Sesegrok / Sesegrog |
Menirukan suara babi saat bersuara keras atau bergerak. |
|
3. |
Domba/kambing |
Ngabérélé |
Suara domba atau kambing saat mengembik. |
|
4. |
Itik/bebek |
Ngawékwék (ngwekwek) |
Bunyi itik yang sering terdengar di sawah atau kolam. |
|
5. |
Ayam jantan |
Kongkorongok |
Suara ayam jantan di pagi hari, sering muncul dalam lagu Sunda. |
|
6. |
Ayam betina |
Kokotak |
Bunyi ayam betina, umumnya setelah bertelur atau mencari makan. |
|
7. |
Kuda |
Ngahiem (nghiem) |
Suara kuda meringkik. |
|
8. |
Burung |
Ricit / Récét |
Kicauan burung secara umum. |
|
9. |
Harimau |
Ngagerem / Ngagaur |
Dipakai dalam cerita rakyat dan simbol kekuatan. |
|
10. |
Serangga |
Ngahieng |
Dengungan serangga kecil seperti nyamuk. |
|
11. |
Monyet |
Begog |
Suara monyet yang keras dan berulang. Biasanya dipakai untuk menggambarkan keramaian atau kegaduhan. |
|
12. |
Gagak |
Ngelak |
Suara khas burung gagak. |
|
13. |
Burung perkutut |
Ngantuk (disada terus-terusan) |
Bunyi perkutut yang terdengar terus-menerus. |
|
14. |
Kucing |
Ngéong/ éong-éongan |
Suara kucing mengeong dalam keseharian. |
|
15. |
Sapi |
Emoh |
Suara sapi yang umum terdengar di lingkungan peternakan. |
Sora Sasatoan vs Onomatope Bahasa Indonesia
Jika dibandingkan dengan bahasa Indonesia, banyak suara hewan dalam bahasa Sunda memiliki bunyi yang berbeda meski merujuk pada hewan yang sama. Perbedaannya terletak pada cara pelafalan.
Perhatikan contoh di bawah ini:
|
Hewan |
Bahasa Sunda |
Bahasa Indonesia |
|
Anjing |
Ngagog |
Guk-guk |
|
Ayam jantan |
Kongkorongok |
Kukuruyuk |
|
Kambing |
Ngabérélé |
Mbee |
|
Kucing |
Ngéong |
Meong |
|
Burung |
Ricit |
Cuit-cuit |
|
Harimau |
Ngagaur |
Aum |
Dilihat sekilas, sora sasatoan Sunda memang tidak begitu mirip dengan onomatope dalam bahasa Indonesia. Hal ini sangat mungkin terjadi karena masing-masing istilah lahir dari konteks budaya yang berbeda.
Baca Juga: Lirik Lagu Panon Hideung, Lagu Bahasa Sunda yang Digubah dari Lagu Rusia
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.