ADVERTISEMENT
Beranda Lirik Lagu dan Terjemahan Lagu Peuyeum Bandung yang Bercerita Soal Lezatnya Tape Khas Bandung
ADVERTISEMENT

Lirik Lagu dan Terjemahan Lagu Peuyeum Bandung yang Bercerita Soal Lezatnya Tape Khas Bandung

7 jam yang lalu - waktu baca 3 menit
Peuyeum yang jadi inspirasi lagu Peuyeum Bandung | Okkisafire/WikimediaCommons

Orang Sunda mana yang tidak mengenal peuyeum? Makanan khas Kota Bandung dan sekitarnya ini sudah ada sejak zaman dahulu dan masih eksis hingga sekarang. 

Saking populernya makanan ini, sampai ada lagu Sunda yang membahas soal kelezatan peuyeum. Adalah Peuyeum Bandung, lagu berbahasa Sunda yang menjabarkan termasyurnya tape asli Jawa Barat itu.

Baca Juga: Lirik Lagu Es Lilin dan Terjemahannya, Lengkap dengan Makna serta Filosofi Lagunya

Lirik Lagu 'Peuyeum Bandung' dan Terjemahannya

Di mana-mana

Di kampung di kota

Tos kakoncara

(Sudah terkenal)

Ku nikmat rasana

(Oleh kenikmatan rasanya)

 

Sampeu asalna

(Asalnya dari singkong)

Teu direka-reka

(Tidak direka-reka)

Naon namina

(Apa namanya)

Duh matak kabita

(Sangat mengundang selera)

 

Peuyeum Bandung kamashur

(Peuyeum/tape Bandung termashyur)

Pangaosna teu luhur

(Harganya tidak mahal)

Ku sadaya kagaleuh

(Bisa dibeli oleh semuanya)

Sepuh jeung murangkalih

(Yang tua maupun yang muda)

 

Mangga cobian

(Silakan dicoba)

Bilih panasaran

(Kalau penasaran)

Peuyeum ti Bandung

(Peuyeum/tape dari Bandung)

Henteu sambarangan

(Tidak sembarangan)

Pencipta Lagu 'Peuyeum Bandung'

Lagu Peuyeum Bandung digubah oleh Sambas Mangundikarta. Sambas adalah penyiar kondang Indonesia yang pernah mengudara di Radio Republik Indonesia (RRI) dari 1970-an hingga 1990-an. Tak hanya itu, ia juga berprofesi sebagai reporter berita.

Meskipun aktif di media pemberitaan, Sambas turut menciptakan berbagai lagu yang ikonik. Selain Peuyeum Bandung, lagu Manuk Dadali dan Sapu Nyere Pegat Simpay adalah contoh karyanya yang masih populer di telinga masyarakat Sunda hingga sekarang.

Lagu ini dipopulerkan oleh penyanyi pop Sunda Nining Meida. Lagu tersebut sangat melejit di tahun 1980-an. Banyak seniman-seniman lokal Sunda yang menyanyikan lagu tersebut.

Baca juga: 7 Lagu Daerah Jawa Barat yang Sarat Makna

Makna dan Filosofi Lagu 'Peuyeum Bandung'

Peuyeum berarti tape dalam bahasa Sunda. Tak salah, lagu Peuyeum Bandung memang menceritakan tentang tape yang merupakan salah satu makanan khas kota tersebut.

Menyadur dari situs resmi Pemerintah Kota Bandung, peuyeum dibuat dari singkong yang difermentasi. Makanan ini mirip dengan tape, tetapi memiliki tekstur yang lebih padat dan kesat.

Lagu Peuyeum Bandung ditulis dan dinyanyikan dengan bahasa Sunda. Dalam liriknya, dijelaskan bahwa peuyeum bercita rasa sedap. Harganya pun murah, semua orang bisa membelinya.

Melodi musiknya ceria, seakan-akan menunjukkan kecintaan seseorang terhadap peuyeum yang menjadi salah satu ikon budaya lokal di Tanah Sunda.

Baca juga: Lirik Lagu Bubuy Bulan: Lengkap dengan Terjemahan dan Not Nada

Nilai Budaya dalam Lagu ‘Peuyeum Bandung’

Lagu Peuyeum Bandung menjadi salah satu cara untuk melestarikan budaya daerah. Dari liriknya, jelas bahwa lagu tersebut ikut mempromosikan peuyeum sebagai makanan khas Bandung.

Konon, makanan ini muncul saat krisis pangan melanda di masa penjajahan Belanda. Untuk mengisi perut, singkong dijadikan pilihan. Jumlah singkong yang dipanen juga cukup banyak.

Masyarakat saat itu mencoba berkreasi agar singkong-singkong yang melimpah itu tidak cepat busuk. Akhirnya, tercetus ide untuk difermentasikan.

Merangkum dari Nusantara Food Biodiversity, pada dasarnya peuyeum sudah melekat pada kehidupan sosial masyarakat setempat. Di masa penjajahan, peuyeum menjadi makanan para pemuda yang tergabung dengan Tentara Rakyat, sehingga menyimbolkan solidaritas.

Tak hanya itu, sesepuh Sunda pun percaya jika mengonsumsi peuyeum dapat memperlancar menstruasi bagi wanita. Peuyeum dianggap bisa “menenangkan” wanita yang biasanya merasakan nyeri saat datang bulan.

Peuyeum menjadi simbol budaya dan kekayaan kuliner Jawa Barat. Bahkan, makanan ini juga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Provinsi Jawa Barat pada tahun 2020.

ADVERTISEMENT

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.

ADVERTISEMENT