Mengenal Kembali Tokoh-Tokoh Masyarakat Garut


Karel Frederik Holle

Karel Frederik Holle (Amsterdam, 1829-1896) adalah seorang Belanda pemilik perkebunan di Garut yang juga ditunjuk sebagai penasehat pemerintah Hindia Belanda. Holle sangat tertarik dengan bahasa dan sastra daerah, khususnya bahasa Sunda, karena sebelumnya ia pernah bertugas di wilayah Parahyangan Timur.

Teman sekaligus murid Holle adalah Muhamad Musa, seorang pejabat asli Limbangan, Garut, yang banyak menggubah karya sastra berbahasa Sunda. Selain perannya sebagai pejabat kolonial dan peneliti budaya, Holle juga terkenal sebagai penanam teh dan jasanya terhadap Garut sangat besar. Kontribusinya antara lain pengembangan bidang perkebunan, pertanian, pariwisata, sastra, kebudayaan dan pendidikan.

 

Raden Hadji Moehamad Moesa

Muhammad Musa adalah seorang penulis Sunda  abad ke-19 (1822-1896). Ia banyak menulis prosa dan puisi dalam bentuk wawacan. Selain itu ia sering menulis tentang berbagai bidang selain sastra, antara lain  pemerintahan, pendidikan, dan pertanian.

Karya-karya yang ia tulis ada yang merupakan ciptaannya sendiri dan ada pula yang merupakan terjemahan. Karya Muhamad Musa yang paling terkenal adalah Wawacan Panji Wulung yang terbit pada tahun 1871. Karya-karya lainnya yang dicetak di antaranya :

1862: Wawacan Raja Sudibya, Wawacan Wulang Krama, Wawacan Dongéng-dongéng, Wawacan Wulang Tani;

1863: Carita Abdurahman jeung Abdurahim, Wawacan Seca Nala;

1864: Ali Muhtar, Élmu Nyawah;

1865: Wawacan Wulang Murid, Wawacan Wulang Guru;

1866: Dongéng-dongéng nu Aranéh;

1867: Dongéng-dongéng Pieunteungeun;

1872: Wawacan Lampah Sekar;

1881: Santri Gagal, Hibat.

 

Raden Ajoe Lasminingrat

Nama Raden Ayu Lasmingrat mungkin masih  asing di telinga masyarakat Indonesia. Nyatanya, Raden Ayu Lasmingrat menunjukkan banyak dedikasinya, khususnya di bidang pendidikan dan penulisan bagi perempuan Sunda.

Raden Ayu Lasmingrat merupakan pionir gerakan perempuan di bidang pendidikan dan penulisan. Pada masa Raden Ayu Lasminingrat bekerja, para pionir pendidikan seperti Raden Ajeng Kartini, Raden Dewi Sartika dan Rahman El-Yunusiyah, belum lahir.

Namun nama Raden Ayu Lasminingrat tidak pernah disebutkan dalam sejarah gerakan perempuan. Nama Raden Ayu Lasminingrat terkubur di bawah nama tiga tokoh tersebut. Namun karya-karya Raden Ayu Lasmingrat masih banyak dijumpai pada buku bacaan SMA atau SD di Jawa Barat.

Jejak perjuangan Raden Ayu Lasmingrat masih terlihat jelas di sekolah hasil perjuangannya yang masih eksis di kota Garut. Gedung sekolah tersebut telah ditetapkan oleh pemerintah provinsi  sebagai salah satu bangunan yang dilindungi atau dengan kata lain masuk dalam kategori Bangunan Cagar Budaya (BCB) Kota Garut.


0 Komentar :

    Belum ada komentar.